Rekonstruksi Spasial dan Verifikasi Sejarah Lisan Atas Kunjungan Raja Ali Kelana di Kuala Maras, Pulau Jemaja (1896)
Keywords:
Raja Ali Kelana, Kuala Maras, Jemaja, Pohon Perhimpunan, Sejarah LisanAbstract
Penelitian ini merekonstruksi jejak perjalanan Raja Ali Kelana dan Controleur J. J. E. F. Schwartz di Kepulauan Jemaja pada tahun 1896. Keterbatasan historiografi lokal yang bias teks diatasi melalui pendekatan sejarah kritis menggunakan metode triangulasi data, analisis morfologi batuan, serta kerangka teori pusat periferi dan memori kolektif. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan esensial. Pertama, pelabuhan Kuala Maras terkonfirmasi sebagai pusat agregasi ekonomi utama di Jemaja abad ke-19. Kedua, wawancara mendalam dengan keturunan penguasa lokal memperkuat indikasi eksistensi Datuk Kaya Haji Muhammad Tara sebagai otoritas adat penyambut elit Riau Lingga. Ketiga, observasi lapangan tahun 2026 berhasil mengidentifikasi lanskap bebatuan Hulu Sungai Air Pasir yang menunjukkan konsistensi spasial dengan arsip foto tahun 1896. Kesimpulannya, pembuktian silang antara teks, memori kolektif, dan ruang fisik ini memberikan bukti yang koheren dalam mengklarifikasi ambiguitas geografis dan menegaskan posisi Kuala Maras dalam historiografi maritim Nusantara.
References
Andaya, L. Y. (1989). The Kingdom of Johor, 1641–1728: A Study of Economic and Political Developments in the Straits of Malacca. Ithaca: Cornell University Press.
Baker, A. R. H. (2003). Geography and History: Bridging the Divide. Cambridge: Cambridge University Press.
Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepulauan Riau. (2018). Buku Potensi Anambas. Tanjungpinang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Gottschalk, L. (2006). Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (N. Notosusanto, Terj.). Jakarta: UI Press.
Halbwachs, M. (1992). On Collective Memory (L. A. Coser, Terj.). Chicago: University of Chicago Press.
Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Locher-Scholten, E. (2003). Sumatran Sultanates and Colonial Subjects: Jambi and the Rise of Dutch Imperialism, 1830–1907. Ithaca: Cornell Southeast Asia Program Publications.
Ota, A. (2006). Changes of Riau Livelihood: 1900s–1970s. Kyoto: Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University.
Putten, J. v. d. (2006). His word is the truth: Haji Hasan Mustapa's discourse on the precepts of the state in Riau. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 162(2/3), 213–241.
Raharjo, S. N. I., dkk. (2019). Sejarah Wilayah Perbatasan Kepulauan Natuna: Mutiara di Ujung Utara. Jakarta: LIPI Press.
Reid, A. (1993). Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Volume Two: Expansion and Crisis. New Haven: Yale University Press.
Stoler, A. L. (2010). Along the Archival Grain: Epistemic Anxieties and Colonial Common Sense. Princeton: Princeton University Press.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Swastiwi, A. W. (2015). Pulau Tujuh: Sejarah dan Masyarakatnya Pada Naskah Pohon Perhimpunan Peri Perjalanan. Tanjungpinang: Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau.
Trocki, C. A. (1979). Prince of Pirates: The Temenggongs and the Development of Johor and Singapore 1784-1885. Singapore: Singapore University Press.
Vansina, J. (1985). Oral Tradition as History. Madison: University of Wisconsin Press.
Wallerstein, I. (074). The Modern World-System I: Capitalist Agriculture and the Origins of the European World-Economy in the Sixteenth Century. New York: Academic Press.






